Sabtu, 03 Desember 2016

laporan Budidaya Tanaman Sayuran


LAPORAN PRAKTEK
BUDIDAYA TANAMAN SAYUR-SAYURAN

BUDIDAYA TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L)
DAN BAWANG DAUN (Allium fistulosum L)
SECARA POLIKULTUR

Dosen Pengasuh : Sri Winaty Hrp, SP. MP




OLEH
                             
                                          Nama            : Hopman Siregar
                                          NPM             : 2011 11 127
                                          Kelompok    : III
                                          Prodi             : AGT VA    






PROGRAM STUDI AGROTEKHNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
T.A.2013/2014

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segenap rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan ini dengan judul “Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L) dan Bawang Daun (Allium fistulosum L ) Secara Polikultur (Tumpang sari)”. Dalam penulisan laporan ini, penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam penulisan laporan ini. 
Penulis menyadari segala yang penulis tulis pada makalah ini masih kurang sempurna, maka segala saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini akan senantiasa penulis nantikan. Penulis juga berharap yang ditulis dalam laporan ini dapat berguna bagi pembaca.



Padangsidempuan,... Februari, 2014



                                                                                                               Penulis        
                                                      















DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR.................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................. ii

BAB.I PENDAHULUAN............................................................................. 1
          1.1.Latar Belakang................................................................................. 1
          1.2.Tujuan.............................................................................................. 2

BAB.II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 2
          2.1.Klasifikasi dan Morfologi Mentimun (Cucumis sativus L).............. 2
          2.2.Syarat Tumbuh Mentimun (Cucumis sativus L)............................... 2
          2.3.Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L)........................................ 3
          2.4.Klasifikasi dan Morfologi Bawang Daun (Allium fistulosum L)...... 4
          2.5.Syarat Tumbuh Bawang Daun (Allium fistulosum L)....................... 5
          2.6.Budidaya Bawang Daun (Allium fistulosum L)............................... 5
          2.7.PoliKultur (Tumpang sari )............................................................... 7

BAB.III METODE PELAKSANAAN....................................................... 8
          3.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan...................................................... 8
          3.2. Alat dan Bahan............................................................................... 8
          3.3. Prosedur Kerja................................................................................ 8
          3.4. Parameter Pengamatan.................................................................... 9
          3.5.Denah Lokasi Pelaksanaan............................................................... 9       
         
BAB.IV HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................... 10
          4.1. Hasil                                                                                                 10
          4.1.1.Mentimun (Cucumis sativus L).................................................... 10
          4.1.2.Bawang Daun (Allium fistulosum L)............................................ 11
          4.2. Pembahasan.................................................................................... 11
          4.2.1.Mentimun Cucumis sativus L)...................................................... 11
          4.2.2.Bawang Daun (Allium fistulosum L)............................................ 14

BAB.V PENUTUP....................................................................................... 15
          5.1. Kesimpulan.................................................................................... 15
          5.2. Saran                                                                                               15

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN






DAFTAR TABEL




Tabel 1 : Jumlah Buah Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L )............................. 10

Tabel 2 : Berat bobot basah Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L )..................... 10

Tabel 3 : Pengamatan Bawang Daun(Allium fistulosum L) Bedengan I..................... 11

Tabel 4 : Pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L)Bedengan II .................. 11

Tabel 5 : Pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L)Bedengan III.................. 12




































BAB.I
PENDAHULUAN



1.1.Latar Belakang
            Dalam bercocok tanam, terdapat beberapa pola tanam agar efisien dan memudahkan kita dalam penggunaan lahan, dan untuk menata ulang kalender penanaman. Pola tanam sendiri ada tiga macam, yaitu : monokultur, polikultur (tumpangsari), dan rotasi tanaman. Ketiga pola tanam tersebut memiliki nilai plus dan minus tersendiri. Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
            Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya :Mentimun (Cucumis sativus L) dan Bawang Daun (Allium fistulosum).
Mentimun (Allium fistulosum)merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin atau spiral. Bagian yang dimakan dari sayuran ini adalah buahnya. Biasanya buah mentimun dimakan mentah sebagai lalap dalam hidangan makanan dan juga di sajikan dalam bentuk buah segar (Sugito, 1992).
            Bawang daun (Allium fistulosum) atau biasa juga disebut daun bawang merupakan jenis sayuran dari kelompok bawang yang banyak digunakan dalam masakan. Daun bawang sebenarnya istilah umum yang dapat terdiri dari spesies yang berbeda. Jenis yang paling umum dijumpai adalah bawang daun (Allium fistulosum). Jenis lainnya adalah A. ascalonicum, yang masih sejenis dengan bawang merah. Kadang-kadang bawang prei juga disebut sebagai daun bawang.
            Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dan saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan (penyerapan hara dan air) pada suatu petak lahan antar tanaman. Pada pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran yang relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal.

1.2.Tujuan
Adapun tujuan Praktek Budidaya Tanaman Sayuran adalah sebagai berikut :
ü  Mahasiswa mengetahui cara budidaya Mentimun (Cucumis sativus L) dan budidaya Bawanng Daun (Allium fistulosum L ) secara polikultur (Tumpang sari ).
ü Mahasiswa mengetahui jumlah buah Mentimun dalam 1 lobang tanam.
ü Mahasiswa mengetahui berat buah /lobang tanaman dan per bedengan (Plot).
ü Mahasiswa mengetahui jumlah daun dan tinggi Bawang daun (Allium fistulosum).
BAB.II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1.Klasifikasi dan Morfologi Mentimun (Cucumis sativus L )
Adapun Klasifikasi tanaman Mentimun (Cucumis Sativus L.) menurut (Annonymous. 2011)adalah Sebagai berikut :
 Kingdom        : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Sub division    : Angiospermae
Class                : Dicotyledonae
Ordo                : Cucurbitales
Family             : Cucurbitaceae
Genus              : Cucumis
Species            : Cucumis sativus L
Tanaman mentimun berakar tunggang, akar tunggangnya akan tumbbuh lurus kedalam tanah sampai kedalaman 20 cm. Perakaran tanaman mentimun dapat tumbuh dan berkembang pada tanah yang berstruktur remah (Cahyono, 2003).
Mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan pemegang yang berbentuk pilin spiral. Batangnya basah serta berbuku-buku. Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai 50-250 cm, bercabang dan bersulur yang tumbuh pada sisi tangkai daun (Rukmana, 1994).
 Daun tanaman mentimun berbentuk bulat dengan ujung daun runcing berganda dan bergerigi, berbulu sangat halus, memiliki tulang daun menyirip dan bercabnng-cabang, kedudukan daun tegap. Mentimun berdaun tunggal, bentuk, ukuran dan kedalaman lekuk daun mentimun sangat bervariasi (Cahyono, 2003).
          Bunga mentimun merupakan bunga sempurna, berbentuk terompet dan berukuran 2-3 cm, terdiri dari tangkai bunga dan benangsari. Kelopak bunga berjumlah 5 buah, berwarna hijau dan berbentuk ramping terletak dibagian bawah tangkai bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5-6 buah, berwarna kuning terang dan berbentuk bulat (Cahyono, 2003).
          Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, dan hijau keputihan sampai putih tergantung kultivar, sementara buah mentimun tua berwarna coklat, coklat tua bersisik, kuning tua. Diameter buah mentimun antara 12-25 cm (Sumpena 2001).
          Biji timun berwarna putih, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji mentimun diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada ruang-ruang tempat biji tersusun dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan untuk perbanyakan dan pembiakan (Cahyono, 2003).

2.3.Syarat Tumbuh Mentimun
Ø  Iklim
       Tanaman mentimun mempunyai daya adaptasi cukup luas terhadap lingkungan tumbuhnya. Di Indonesia mentimun dapat di tanam di dataran rendah dan dataran tinggi yaitu sampai ketinggian ± 100 m di atas permukaan laut (Sumpena 2001).
  Tanaman mentimun tumbuh dan berproduksi tinggi pada suhu udara berkisar antara 20-320 C, dengan suhu optimal 270 C. Di daerah tropik seperti di Indinesia keadaan suhu udara ditentukan oleh ketinggian suatu tempat dari permukaan laut. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman mentimun, karena penyerapan uunsur hara akan berlangsung optimal jika pencahayaan berlangsung antara 8-12 jam/hari (Cahyono, 2003).
          Kelembaban relatif udara (rh) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun untuk pertumbuhannya antara 50-85%, sedangkan curah hujan optimal yang diinginkan 200-400 mm/bulan. Curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan tanaman mentimun, terlebih pada saat mulai berbunga karena curah hujan yang tinggi akan banyak menggugurkan bunga (Sumpena 2001).
Ø  Tanah
            Pada umumnya hamper semua jenis tanah yang digunakan untuk lahan pertanian cocok untuk ditanami mentimun. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan kualitas yang baik, tanaman mentimun membutuhkan tanah yang subur dan gembur, kaya akan bahan organik, tidak tegenang, pH-nya 5-6. Namun masih toleran terhadap pH 5,5 batasan minimal dan pH 7,5 batasan maksimal. Pada pH tanah kurang dari 5,5 akan terjadi gangguan penyerapan hara oleh akar tanaman sehingga pertumbuhan tanaman terganggu, sedangkan pada tanah yang terlalu basa tanaman akan terserang penyakit klorosis (Rukmana, 1994).

2.3.Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L ).
-        Persiapan Lahan      
            Tanah diolah dengan dibajak atau dicangkul untuk membuat guludan dengan tinggi antara 40-50 cm, lebar 60 cm, jarak antar guludan 40 cm. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air diantara guludan. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk mendapat hasil yang lebih baik. Pupuk dasar diberikan pada saat penanaman biji mentimun, yaitu SP-36, NPK dan ZA. Dengan membuat lubang memakai tugal, lubangnya di dekat biji mentimun  yang ditanam.
-        Penanaman
Pembuatan lubang tanam dua baris atau double rows 60 x 30 cm, masukkan biji mentimun dalam lubang dengan jumlah biji 3 biji perlubang sedangkan lubang pupuk dapat ditugal 5 cm disamping lubang tanam.Benih ditanam sedalam 1 cm, 3 benih perlubang tanam.Benih ditutup dengan abu jerami pada musim kemarau dan pada musim    hujan dengan abu ditambah pupuk kandang.Penyulaman dilakukan secepatnya agar pertumbuhan tanaman seragam.Pemeliharaan tanaman
-        Pemupukan
Pemupukan dilakukan 3 kali dengan dosis 10 gr per tanaman atau 1 sendok teh untuk aplikasi pertama pada umur 12 hst. Sedangkan aplikasi kedua dan ketiga dengan dosis 20 gr pertanaman atau 1 sendok makan pada umur 25 dan 45 hst. Pupuk diletakkan pada jarak 10 – 20 cm dari tanaman.
-        Pengairan
Pengairan diberikan setiap selesai pemupukan. Sedangkan pengairan rutin diberikan dengan melihat kondisi tanah di bawah mulsa.Pada musim hujan, yang harus diperhatikan adalah drainase yang harus terbuka untuk membuang air dari dalam areal tanaman.
-        Pemasangan lanjaran atau pengajiran
Pemasangan lanjaran bisa dilakukan atau dipasang tanaman belum transplanting atau dipasang setelah 2 minggu tanam. Pengajiran bertujuan untuk tanaman agar tumbuh tegak ke atas dan memperoleh sinar matahari secara optimal.Selain itu ajir juga berfungsi untuk merambatkan tanaman, memudahkan pemeliharaan dan tempat menopang buah.Pengajiran dilakukan seawal mungkin (± 5 hari setelah tanam) agar tidak mengganggu dan merusak perakaran tanama.Tinggi ajir ± 2 meter.cara pengajiran yaitu: mengikat batang tanaman (di bawah daun pertama),  melilitkan tali kasur pada batang tanaman.
-        Pembumbunan/Penggemburan
Dengan pembumbunan, partikel tanah yang besar dihancurkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.Kegiatan pembumbunan dalam budi daya tanaman bisa dilakukan bersama-sama dengan penyiangan.Saat dilakukan penyiangan, tanah-tanah disepanjang barisan tanaman ditimbunkan dipangkal rumpun tanaman. Cara ini sekaligus juga menciptakan parit-parit di atas bedengan yang akan semakin melancarkan drainase. Tanah yang tergenangi air dan terlalu lembab bisa memicu serangan penyakit sehingga tanaman mudah membusuk.Umunya kegiatan pembumbunan sampai panen tiba dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, ditanah yang ringan kegiatan ini harus dilakukan agak sering, terutama setelah turun hujan yang bisa mengikis tanah dipangkal tanaman
-        Pewiwilan ,Pengikatan dan Penyiangan    
Wiwil adalah pekerjaan membuang tunas-tunas yang tumbuh di ruas ke 3 atau 4. Dampak positif dari wiwil ini adalah mempercepat pertumbuahan tanaman ke atas disamping untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru, Sedangkan fungsi ikat adalah agar tanaman dapat menjalar ke atas, sehingga tanaman dapat tumbuh tegak. Dengan ikat akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan dan panen.Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma.
-        Panen dan Pasca Panen
Timun dapat dipanen setelah tanaman berumur 38 – 40 hari sejak tanam. Buah yang dipanen berukuran panjang sekitar 18 – 20 cm dengan berat antara 80- 120 g. Buah yang berbentuk lurus berdiameter 1,5 – 2,5 cm dengan berat 20 g adalah buah kualitas super. Saat panen yang baik adalah pagi hari antara pukul 06.00-10.00 dan sore hari antara pukul 15.00-17.00.(Rukmana.1995)

2.4.Klasifikasi dan Morfologi Bawang Daun (Allium fistulosum L.)
Kingdom             :Plantae
Sub divisio          : Spermatophyta      
Divisio                 : Magnoliophyta
Kelas                   : Liliopsida
Sub Kelas            : Lilidae
Ordo                    : Asparagales
Famili                  : Alliaceae
Genus                  : Allium
Species                : Allium fistulosum L
            Habitat tananaman bawang daun merupakan  tanaman semusim,dengan tinggi 60-70 cm,Batang semu.beralur.tidak bercabang,hijau muda,daun tunggal berupa roset akar,lanset tepi rata,ujung runcing,panjang ± 30 cm,lebar ±5 cm,pertulangan sejajar,daging daun tipis , rata,hijau.
            Bunga bawang daun majemuk,berkelamin dua,tangkai silindris,panjang ±2 cm ,hijau,kelopak berbentuk corong,ujung bertoreh,permukaan rata,putih ke hijauan ,benang sari silidris,panjang ± 5 mm,kepala sari melengkung,putik silidris,panjang ± 2 cm,kepala putik kuning,bulat panjang,hijau,mahkota bulat terbagi enam,permukaan rata,putih.Buah kotak,lonjong,Diameter ± 5 mm,hijau.Biji berbentuk pipih,kecil,putih,dan berserabut.

2.5. Syarat Tumbuh Bawang Daun (Allium fistulosum L)
            Bawang daun bisa tumbuh di dataran rendah maupun tinggi. Dataran rendah yang terlalu dekat pantai bukanlah lokasi yang tepat karena pertumbuhan bawang daun menginginkan ketinggian sekitar 250-1.500 m dpl. Di daerah dataran rendah produksi anakan bawang daun juga tak seberapa banyak. Curah hujan yang tepat sekitar 1.500-2.000 mm/tahun. Daerah tersebut sebaiknya juga memiliki suhu udara harian 18-25°C. Tanah dengan pH netral (6,5-7,5) cocok untuk budi daya bawang daun. Bila tanah bersifat asam lakukan pengapuran pada saat pengolahan tanah. Jenis tanah yang cocok ialah andosol (bekas lahan gunung berapi) dan tanah lempung yang mengandung pasir.

2.6. Budidaya Bawang Daun (Allium fistulosum L)
-            Pembibitan
Ada dua cara melakukan pembibitan bawang daun. Pertama, menggunakan pembibitan benih dan kedua menggunakan pembibitan anakan. Tahap pertama budidaya bawang daun adalah pembibitan. Berikut ini merupakan tahap pembibitan bawang daun.
-            Pembibitan Benih 
            Benih disemai di sebuah bedengan selebar 100-120 cm dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.Tanah digemburkan dan diolah dengan ukuran kedalaman sekitar 30cm. Kemudian, pupuk kandang sebanyak 2 kilogram dicampurkan ke dalamnya.Bedengan diberi semacam atap berbahan plastik transparan dengan ketinggian 100-150cm di sebelah timur, sementara tinggi di sisi barat cukup 60-80cm.Benih pun ditaburkan pada sebuah garis atau larik-larik melintang dengan kedalaman sekitar 1cm dan jarak tiap-tiap larikan tidak lebih dari 10cm.Sambil menunggu kecambah muncul, tutuplah benih tersebut dengan karung goni yang basah atau bisa juga menggunakan daun pisang.Untuk merawatnya, disarankan agar penyiraman dilakukan setiap hari.Pada usia 1 bulan, saatnya bibit diberikan pupuk daun dengandosis anjuran 1/3 hingga ½ dengan cara disemprot.jika sudah berusia 2 bulan dan ketinggian bibit sudah mencapai 10cm hingga 15 cm, bibit bawang daun sudah siap dipindahkan.
-            Pembibitan Anakan
Berikut ini adalah bagaimana daun bawang dibudidayakan menggunakan pembibitan anakan.Memilih rumpun yang hendak dibuat menjadi bibit haruslah berumur 2,5 bulan dan dalam kondisi sehat tidak terseranghama.Pembongkarannya, rumpun piliahan tadi diangkat bersama dengan akar-akarnya.Selanjutnya, tanah yang menempel dan akar atau daun tua ikut dibuang.Pisahkanlah rumpun tersebut hingga kita mempunyai rumpun baru yang terdiri dari 1-3 anakan daun bawang.Cara penanamannya adalah membuang sebagian daun dan bibit pun disimpan pada lokasi lembap serta teduh dengan durasi sekitar 5 hingga 7 hari.Bibit pun siap ditanam.
-            Persiapan Lahan
Lahan yang sesuai untuk penanaman bawang daun adalah tanah hitam yang gembur dan banyak humus. Selanjutnya tanah diolah dan sebaiknya pengolahan tanah dilakukan 15-30 hari sebelum tanam, tanah diolah dengan dicampur Pupuk Organik. Buatlah persemaian. Caranya, olah tanah, lalu tanam biji atau anak tunas sebagai bibit. Untuk 1 ha lahan, dibutuhkan bibit (tunas) sebanyak 200.000 anakan atau 1,5-2 kg biji. Siapkan lahan untuk penanaman. Caranya, cangkul tanah sedalam 30-40 cm, kemudian berikan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha. Buat bedengan selebar 0,6-1 m. Buat parit dengan lebar 20-30 cm di antara bedengan. Pengapuran dilakukan jika tanah ber-pH < 6.5 dengan 1-2 ton/ha kapur dolomit dicampur merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm sedalam 10 cm.
-            Penanaman
            Pindahkan bibit ke lahan penanaman setelah berumur 2 bulan (tingginya 10-15 cm).Waktu tanam terbaik awal musim hujan (Oktober) atau awal kemarau (Maret).Sebelum ditanam, bibit dicabut dengan hati-hati, lalu potong sebagian akar dan daun.Rendam bibit dalam fungisida dengan konsentrasi rendah (30%-50% dari dosis yang dianjurkan) selama 10-15 menit.Tanam bibit dalam lubang yang telah disediakan, lalu padatkan tanah disekitar pangkal bibit atau pada bagian akar.
-            Pemeliharaan
Setelah bawang daun berumur 15 hari setelah tanam lakukan penyulaman, bila ada bibit bawang daun yang mati atau yang pertumbuhannya kurang baik.Lakukan penyiangan gulma setiap 3-4 minggu, atau setiap kali tumbuh gulma di sekitar tanaman bawang daun.Pembubunan bagian dasar tunas selama 4 minggu sebelum panen.Potong batang bunga dan daun tua untuk merangsang tunas.siram 2 kali sehari, usahakan untuk tidak terlalu becek/basah.Lakukan penyemprotan pestisida jika diperlukan bila muncul tanda-tanda hama dan penyakit, usahakan dengan pestisida nabati/organik.
-            Pemupukan
Berikan pupuk pertama pada saat bawang daun berumur 25-30 hari setelah tanam. Selanjutnya lakukan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dengan memperhatikan laju pertumbuhan tanaman. Untuk hasil yang maksimal, menjaga kermahan lingkungan, dan hasil panen bawang daun yang sehat untuk dikonsumsi, gunakan Pupuk Organik.
-            Panen
            Umur Panen 2,5 bulan setelah tanam.Jumlah anakan maksimal (7-10 anakan), beberapa daun menguning.Seluruh rumpun dibongkar dengan cangkul/kored di sore hari/pagi hari.Bersihkan akar dari tanah yang berlebihan.
-            Pasca Panen
            Bawang daun yang telah dipanen disimpan di tempat teduh, lalu cuci sampai bersih dengan air mengalir/disemprot, lalu tiriskan.Ikat dengan tali rafia pada bagian batang dan daun.Berat setiap ikatan sekitar 25 kg.Bawang daun disortir sesuai ukuran diameter batang dan panjang daun.Simpan pada temperatur 0,8-1,4 °C sehari semalam untuk menekan penguapan dan kehilangan bobot, dan agar bawang daun tetap segar saat akan dipasarkan.Bawang daun siap untuk dipasarkan.
2.7. Polikultur (Tumpangsari)
            Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tanaman secara bersama-sama atau dengan interval waktu yang singkat, pada sebidang lahan yang sama. Tumpangsari merupakan sistem penanaman tanaman secara barisan di antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Tumpangsari ditujukan untuk memanfaatkan lingkungan (hara, air dan sinar matahari) sebaik-baiknya agar diperoleh produksi maksimum.Sistem tumpangsari dapat diatur berdasarkan:
Ø  Sifat-sifat perakaran
Ø  Waktu penanaman
     Tujuan dari pada tanaman tumpangsari adalah:
Memanfaatkan tempat-tempat yang kosong, Menghemat pengolahan tanah,Memanfaatkan kelebihan pupuk yang diberikan kepada tanaman utamanya,Menambah penghasilan tiap kesatuan luas tanah, Memberikan penghasilan sebelum tanaman utama menghasilkan.
            Pengukuran sifat-sifat perakaran sangat perlu untuk menghindarkan persaingan unsur hara, air yang berasal dari dalam tanah. Sistem perakaran yang dalam ditumpangsarikan dengan tanaman yang berakal dangkal. Tanaman monokotil yang pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang dangkal, karena berasal dari akar seminal dan akar buku. Sedangkan tanaman dikotil pada umumnya mempunyai sistem perakaran dalam, karena memiliki akar tunggang. Dalam pengaturan tumpang sari tanaman monokotil dengan tanaman dikotil dapat dilakukan kalau dipandang dari sifat perakarannya, misalnya tumpang sari jagung dengan jeruk manis. Jeruk manis dapat tumbuh dengan baik, sedangkan tanaman jagung tumbuh subur tanpa mengganggu kehidupan jeruk manis.
            Pengaturan tumpang sari harus diingat bahwa tanaman selalu mengadakan kompetisi dengan tanaman semusim yang dapat saling menguntungkan, misalnya antara kacang-kacangan dengan jagung. Jagung menghendaki nitrogen tinggi, sementara kacang-kacangan, karena kacangan dapat memfiksasi nitrogen dari udara bebas.


















BAB.III
METODE PELAKSANAAN


3.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan
            Praktek Budidaya Tanaman  Sayur-sayuran dilaksanakan pada jam ke-I (pukul 08.300 s/d 10.00) pada Hari/Tanggal: Kamis,21 September 2013- Rabu,29 Januari 2014 ,yang bertempat di Tor Simarsayang lahan Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara.

3.2.Alat Dan Bahan
Ø  Alat
Adapun alat yang digunakan dalam Praktek Kesuburan Tanah dan Pemupukan adalah sebagai berikut :
-          Cangkul
-          Garu
-          Gembor
-          Tali Rapia
-          Ember
-          Kayu Ajir
-          Papan Pamplet,Pisau Cutter
Ø  Bahan
Adapun Bahan yang digunakan dalam Praktek Kesuburan Tanah dan Pemukan adalah sebagai berikut :
-          Benih Mentimun,Benih Bawang Daun
-          Pupuk Kompos
-          Pupuk NPK Mutiara
-          Polybag ukuran 5 cm × 5 cm

3.3.Prosedur Kerja.
  1. Pembersihan lahan dengan ukuran 1,2 m ×  4,5 m.
  2. Pembuatan Plot yang akan digunakan untuk menanam Mentimun dan Bawang dau secara polikultur (Tumpangsari) dengan ukuran 1 m x 1,5 m,dengan jumlah 3 plot (bedengan)
  3. Pembuatan Lobang tanam/Jarak tanam Mentimun yang digunakan 50 cm × 50 cm . dengan jumlah lobang tanam/Plot (Bedengan) 10 lobang tanam,jadi untuk 3 bedengan 30 lobang tanam mentimun.
  4. Pemberian Pupuk Kompos sebagai pupuk dasar (Pupuk Kompos ).
  5. Penanaman benih Mentimun,Pembuatan Ajir panjang ± 30 cm tanda Lobang tanam , untuk mengetahui lobang tanam Mentimun.
  6. Pembuatan lanjaran Mentimun dengan panjang ± 2 m.
  7. Penanaman bibit bawang daun dengan jarak 20 cm ×  50 cm.
  8. Pemeliharaan yaang terdiri dari :
-          Penyiraman :dilakukan rutin pada sore hari ,apabila tidak turun hujan.
-          Penyiangan
-          Pemupukan dilakukan 2 kali,dengan pupuk NPK Mutiara, dosis ± 5 gram/lobang tanam.
-          Pengendalian H/P pada tanaman Mentimun dilakukan secara mekanik.
  1. Panen

3.4.Parameter Pengamatan.
            Parameter pengamatan Budidaya Tanaman Sayuran ialah:pengamatan jumlah buah Mentimun (Cucumis sativus L) per lobang tanam Pengamatan jumlah buah dilakukan dengan menghitung banyaknya buah setiap kali panen dan dijumlahkan sampai panen ketiga dari masing-masing tanaman.
Berat buah perlobang tanaman Penimbangan berat buah dilakukan dengan cara menimbang buah yang dipanen  dengan menggunakan timbangan.
 Parameter pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L )ialah Tinngi dan Jumlah daun,dengan metode zigzag dalam pengambilan sampel tanaman.

3.4.Denah Lokasi Lahan
            Adapun denah Lokasi Praktek Budidaya Tanaman Sayur-Sayuran sebagai berikut :











BAB.IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.Hasil
            Adapun hasil pengamatan praktek Budidaya Tanaman Sayur-sayuran adalah sebagai berikut :

4.1.1. Mentimun (Cucumis sativus L )
v  Jumlah Buah Mentimun (Cucumis sativus L )
No
Tanaman Sampel
Pengamatan (Jumlah Buah/Lobang Tanam)
Bedengan I
I
II
III
Total
1
1
2
-
-
2
2
2
2
-
-
2
3
4
1
2
1
4
4
5
1
1
3
5
5
8
3
1
4
8

Sub Total
9
4
7
21
6
Bedengan II




7
11
2
1
1
4
8
12
2
1
2
5
9
16
1
1
-
2
10
17
-
1
1
2
11
19
2
-
2
4

Sub Total
7
4
6
17
12
Bedengan III




13
22
2
-
2
4
14
24
-
2
2
4
15
25
2
-
2
4
16
27
2
1
1
4
17
29
2
1
-
3

Sub Total
8
4
7
15
18
Total
24
12
21
55
Tabel 1 :Jumlah Buah Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L )

v  Berat Buah Mentimun (Cucumis sativus L )
No
Tanaman Sampel
Berat (gram)
1
Bedengan I

2
1
220 gram
3
2
240 gram
4
8
190 gram
5
Sub Total
650 gram
6
Bedengan II

7
11
70 gram
8
16
120 gram
9
17
50 gram
10
19
100 gram
11
Sub Total
340 gram
12
Bedengan III

13
22
60 gram
14
25
50 gram
15
29
90 gram
16
Sub Total
200 gram
17
Total
1.190 gram
Tabel 2:Berat Bobot Basah Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L )

4.1.2.Bawang Daun (Allium fistulosum L)
Hasil pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L)dengan parameter pengamatan Jumlah daun dan Tinggi tanaman,adalah sebagai berikut :
v  Bedengan I
No
Tan.Sampel
Pengamatan
I
II
II
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
1
1
29 cm
3
29,7 cm
4
33 cm
4
2
2
29,7 cm
2
30,4 cm
2
32 cm
3
3
3
24 cm
3
25,2 cm
3
26 cm
4
4
4
27 cm
3
28,7 cm
3
30 cm
3
5
5
25 cm
3
26,1 cm
2
27 cm
4
Tabel 3: Pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L) bedengan I

v  Bedengan II
No
Tan.Sampel
Pengamatan
I
II
II
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
1
1
26 cm
3
26,8 cm
3
28 cm
4
2
2
27 cm
3
28,3 cm
4
29 cm
4
3
3
25,2 cm
3
26 cm
4
27 cm
4
4
4
21,4 cm
3
22 cm
3
23 cm
4
5
5
22 cm
2
22,7 cm
3
24 cm
3
Tabel 4 ;Pengamata Bawang daun (Allium fistulosum L)Bedengan II



v  Bedengan III
No
Tan.Sampel
Pengamatan
I
II
II
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
Tinngi (cm)
Jumlah Daun
1
1
24 cm
3
24,8 cm
3
26 cm
4
2
2
21cm
2
21,7 cm
3
23 cm
3
3
3
22,2 cm
3
23 cm
4
24 cm
4
4
4
28 cm
3
28,7 cm
3
30 cm
4
5
5
18,3 cm
3
19 cm
4
20 cm
4
Tabel 5;Pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L) bedengan III

4.2.Pembahasan
Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tanaman secara bersama-sama atau dengan interval waktu yang singkat, pada sebidang lahan yang sama. Adapun Keuntungan bertanam secara polikultur (Tumpang sari ) adalah sebagai berikut; Efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir,Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam barisan,Menghsilkan produksi lebih banyak untuk di jual ke pasar ,kesuburan dan tekstur tanah ,Resiko kegagalan panen berkurang,Kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan produksi tertinggi karena penggunaan tanah dan sinar matahari lebih efisien.Sedangkan kelemmahan plikultur  (Tumpang sari ) adalah Persaingan dalam hal unsur hara, Pemilihan komoditas, Permintaan Pasar, Memerlukan tambahan biaya dan perlakuan.

4.2.1.Mentimun (Cucumis sativus L)
            Data di ambil dari tanaman sampel sebanyak 5 perberdengan,pengambilan sampel dengan metode zigzag,jadi jumlah sampel yang diamati dari 3 bedengan sebanyak 15 sampel tanaman.Jumlah buah,dari data yang telah dicantumkan di atas dapat diketahui bahwa jumlah buah Mentimun (Cucumis sativus L) yaitu pada bedengan I pengamatan 1-3 terdapat 21 buah, bedengan ke-2 terdapat 17 buah dan bedengan ke-3 terdapat 15 buah,penurunan jumlah buah disebabkan faktor biotik yang dapat mempengaruhi produktifitas mentimun meliputi populasi organism hidup yang ada disekitar lokasi budidaya.dari ketiga bedengan tersebut yang paling baik produksi buah terdapat pada bedengan I.Adapun jumlah buah keseluruhan bedengan 1-3 yaitu 55 buah.
Rendahnya produksi dari tanaman mentimun dikarenakan cahaya matahari yang tinggi sehingga bunga yang dihasilkan lebih banyak bunga jantan dibanding bunga betina. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cahyono (2003) yang mengatakan bahwa intensitas cahaya matahari yang tinggi pada tanaman mentimun lebih dominan pembentukan bunga jantan. Hasil produksi akan lebih rendah karena jumlah tanaman dilahan lebih sedikit jadi hasilnya juga rendah walaupun semua tanaman tumbuh dengan baik menurut Rukmana.
            Berat Buah;Hasil panen (berat bobot basah ) Mentimun (Cucumis sativus L),bedengan I terdapat 650 gram,bedengan II: 340 gram dan bedengan III : 200 gram terjadinya ,total hasil keseluruhan sebanyak 1.190 gram. Buah mentimun dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat dipanen, yaitu buah masih berduri, panjang buah antara 10-30 cm atau tergantung jenis yang diusahakan interval panen dilakukan antara 1-2 hari sekali.pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari yang bertujuan untuk menjaga kualitas dan kwntitas buah.Panen dilakukan dengan cara memotong tangkainya dengan pisau atau gunting. Tangkai buah yang bekas dipotong sebaiknya dicelupkan kedalam larutan lilin untuk mempertahankan laju penguapan dan kelayuan sehingga kesegaran buah mentimun dapat terjaga relatif lama (Sumpena, 2001).
            Berat buah tanaman mentimun sangat dipengaruhi oleh ketersediaan hara tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rismunandar (1981) mengatakan bahwa tanaman akan tumbuh baik dan menghasilkan produksi tinggi apabila tersedia cukup makanan. Pemupukan merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman.

4.2.2.Bawang Daun (Allium fistulosum L)
            Data di ambil dari tanaman sampel sebanyak 5 perberdengan,pengambilan sampel dengan metode zigzag,jadi jumlah sampel yang diamati dari 3 bedengan sebanyak 15 sampel tanaman.Bedengan I,dari data diatas kita ketahui bahwa tanaman paliang tinggi yaitu tanaman sampel 1, pengamatan I  tinggi 29 cm,pengamatan ke-2 tinggi 29,7 cm dan pengamatan ke-3  tinggi 33 cm,sedangkan yang paling rendah pada tanaman sampel 3, pengamatan I tinggi 24 cm,pengamatan ke-2 tinggi 25,2 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 26 cm.Rata-rata jumlah Daun dari tanaman sampel 1-5,pengamatan I 3 daun,pengamatan ke-2 3 daun dan pengamatan ke-3 4 daun.
Bedengan II,Tanaman yang paling tinggi yaitu tanaman sampel 2,pengamatan I tinggi 27 cm,Pengamatan ke-2 tinggi 28,3 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 29  cm.Sedangkan tanaman sampel yang paling rendah pada tanaman sampel 4,pengamatan I tinggi 21,4 cm, pengamatan ke-2 tinggi 22 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 24 cm.Rata-rata jumlah daun tanaman sampel pada bedengan II ,pengamatan I  Dan ke-2 3 helai daun,sedangkan pada pengamatan ke -3 4 helai daun.
Bedengan III, Tanaman yang paling tinggi yaitu tanaman sampel 4,pengamatan I tinggi 28 cm,Pengamatan ke-2 tinggi 28,7 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 30  cm.Sedangkan tanaman sampel yang paling rendah pada tanaman sampel 5,pengamatan I tinggi 18,3 cm, pengamatan ke-2 tinggi 19 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 20 cm.Rata-rata jumlah daun tanaman sampel pada bedengan II ,pengamatan I  Dan ke-2 3 helai daun,sedangkan pada pengamatan ke -3 4 helai daun.
Dari hasil pengamatan bedengan 1-3,tanaman yang paling baik pada bedengan I pada sampel tanaman 1 tinngi 33 cm,sedangkan yang paling rendah tanaman sampel  5 pada bedengan III,dengan tinggi tanaman 20 cm.sedangkan rata-rata daun ari ketiga bedengan sama pada pengamtan 1 dan 2,hanya terdapat 3 helai daun dan pada pengamatan ke-3 hanaya terdapat 4 helaian daun.Adapun  faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman bawang daun (Allium fistulosum L) Factor abiotik ini mencakup kondisi tanah, iklim, air, suhu dan kelembaban udara lingkungan tumbuh tanaman.dengan mengetahui syarat tumbuh mentimun, pada umumnya kondisi lingkungan yang yang digunakan untuk praktikum sudah cukup sesuai untuk budidaya bawang daun secara polikultur.Adapun Keuntungan dan kekurangan bertanam secara polikultur (Tumpang sari ) adalah sebagai berikut
BAB.V
PENUTUP


5.1.Kesimpulan
v  Jumlah buah,dari data yang telah dicantumkan di atas dapat diketahui bahwa jumlah buah Mentimun (Cucumis sativus L) yaitu pada bedengan I pengamatan 1-3 terdapat 21 buah, bedengan ke-2 terdapat 17 buah dan bedengan ke-3 terdapat 15 buah,penurunan jumlah buah disebabkan faktor biotik yang dapat mempengaruhi produktifitas mentimun meliputi populasi organism hidup yang ada disekitar lokasi budidaya.dari ketiga bedengan tersebut yang paling baik produksi buah terdapat pada bedengan I.Adapun jumlah buah keseluruhan bedengan 1-3 yaitu 55 buah.
v  Berat Buah;Hasil panen (berat bobot basah ) Mentimun (Cucumis sativus L),bedengan I terdapat 650 gram,bedengan II: 340 gram dan bedengan III : 200 gram maka total hasil keseluruhan sebanyak 1.190 gram.
v  Dari hasil pengamatan bedengan 1-3 Bawang Daun ,tanaman yang paling baik pada bedengan I pada sampel tanaman 1 tinngi 33 cm,sedangkan yang paling rendah tanaman sampel  5 pada bedengan III,dengan tinggi tanaman 20 cm.sedangkan rata-rata daun ari ketiga bedengan sama pada pengamtan 1 dan 2,hanya terdapat 3 helai daun dan pada pengamatan ke-3 hanaya terdapat 4 helaian daun.

5.2.Saran
v  Sebaiknya pemanenan pada buah mentimun (Cucumis sativus L) dilakukan pada pagi/sore hari.
v  Diharapkan kepada semua praktikan untuk lebih serius dalam menjalani praktikum agar tujuan dari praktikum ini dapat terlaksana dengan baik dan praktikan dapat mengetahui dan memahami prosedur kerja sehingga dapat memuat laporan dengan baik dan benar.
















DAFTAR PUSTAKA



Rachmat, S. dan Geraad Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah.
Prosea Indonesia dan Balai Penelitian Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal,
102-104.

Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.

Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif dengan Mulsa Secara Tumpang Gilir.
Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.


Anonymous,2011.http://hulurawa.webs.com/mentimun.htm.diakses tanggal 10 februari 2014

Rukmana, Rahmat. 1995. Budidaya Mentimun. Yogyakarta. Kanisius

Jumin, Hasan Basri. 1998. Dasar-dasar Agronomi. Jakarta : Rajawali.
Marzuki, H. A. Rasyid, Soeprapto. 2004. Bertanam Kacang Hijau. Jakarta : Penebar
Swadaya.
Najiyati, Sri. 1992. Palawija, Budidaya, dan Analisis Usaha Tani. Jakarta : Penebar Swadaya.

Sunaryo, Hendro. 1984. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortiklutura (Produksi Hortikultura I).
Bandung : Sinar Baru Bandung.















LAMPIRAN



Ø  Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Praktek Budidaya Tanaman Sayuran
NO
Hari/tgl/Thn
Kegiatan
1
Kamis,14/11/2013
Pembersihan lahan,pengolahan tanah
2
Kamis,21/11/2013
Pembuatan bedengan
3
Jum’at,22/11/2013
Pembibitan Bawang Daun
4
Kamis,28/11/2013
Penanaman Mentimun,penyiraman
5
Kamis,12/12/2013
Pembuatan lanjaran,Pemupukan dengan Pupuk Kompos,Penyiraman.
6
Kamis,19/12/2013
Penanaman Bawang Daun ,Pemupukan I Mentimun Penyiraman
7
Rabu,7/1.2014
Pemupukan ke-2 Mentimun ,penyiangan ,Pengikatan  , pengendalian H/P dan penyiraman
9
Kamis.08/01/2014
Pengamatan Jumlah buah mentimun Pengikatan ,Pemangkasan ,pengendalian H/P,dan Penyiraman
10
Rabu,15/01/2014
Pengamatan ke-2 Mentimun,Panen ,Penggemburan, Penyiangan,Pengamatan I Bawang Daun.
11
Rabu,22/01/2014
Pengamatan ke-3 Mentimun,Pengamatan ke-2 Bawang daun,penggemburan,dan Penyirman
12
Rabu,29/01/2014
Pengamatan ke-3 Bawang daun.

Ø  Dokumentasi Fhoto

    
Gambar :Benih Mentimun                               Gambar : Penanaman Mentimun


    
Gambar :Pembibitan Bawang Daun               Gambar :Pembuatan Lanjaran Timun

      
Gambar;Penyiraman                                       Gambar :Penanaman Bawang Daun

       
Gambar :Pemupukan                                      Gambar :Pengikatan

     
Gambar ;Buah Mentimun                               Gamabar ; Pemangkasan daun

   
Gambar :Panen Mentimun