LAPORAN PRAKTEK
BUDIDAYA TANAMAN SAYUR-SAYURAN
BUDIDAYA TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L)
DAN BAWANG DAUN (Allium
fistulosum L)
SECARA POLIKULTUR
Dosen Pengasuh : Sri Winaty Hrp, SP. MP
OLEH
Nama :
Hopman Siregar
NPM : 2011 11 127
Kelompok : III
Prodi : AGT VA

PROGRAM STUDI AGROTEKHNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
T.A.2013/2014
KATA
PENGANTAR
Segala
puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
segenap rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan ini dengan judul “Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L) dan Bawang Daun (Allium fistulosum L ) Secara Polikultur (Tumpang sari)”. Dalam penulisan laporan ini, penulis
tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
membantu dalam penulisan laporan ini.
Penulis
menyadari segala yang penulis tulis pada makalah ini masih kurang sempurna,
maka segala saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini akan
senantiasa penulis nantikan. Penulis juga berharap yang ditulis dalam laporan ini dapat
berguna bagi pembaca.
Padangsidempuan,... Februari, 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB.I PENDAHULUAN............................................................................. 1
1.1.Latar Belakang................................................................................. 1
1.2.Tujuan.............................................................................................. 2
BAB.II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 2
2.1.Klasifikasi dan Morfologi Mentimun (Cucumis sativus L).............. 2
2.2.Syarat Tumbuh Mentimun (Cucumis sativus L)............................... 2
2.3.Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L)........................................ 3
2.4.Klasifikasi dan Morfologi Bawang Daun (Allium fistulosum L)...... 4
2.5.Syarat Tumbuh Bawang Daun (Allium fistulosum L)....................... 5
2.6.Budidaya
Bawang Daun (Allium fistulosum L)............................... 5
2.7.PoliKultur
(Tumpang sari )............................................................... 7
BAB.III METODE PELAKSANAAN....................................................... 8
3.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan...................................................... 8
3.2.
Alat dan Bahan............................................................................... 8
3.3.
Prosedur Kerja................................................................................ 8
3.4.
Parameter Pengamatan.................................................................... 9
3.5.Denah
Lokasi Pelaksanaan............................................................... 9
BAB.IV
HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................... 10
4.1. Hasil 10
4.1.1.Mentimun
(Cucumis sativus L).................................................... 10
4.1.2.Bawang
Daun (Allium fistulosum L)............................................ 11
4.2.
Pembahasan.................................................................................... 11
4.2.1.Mentimun
Cucumis sativus L)...................................................... 11
4.2.2.Bawang Daun (Allium fistulosum L)............................................ 14
BAB.V
PENUTUP....................................................................................... 15
5.1. Kesimpulan.................................................................................... 15
5.2.
Saran
15
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR
TABEL
Tabel 1 : Jumlah Buah
Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L )............................. 10
Tabel 2 : Berat bobot
basah Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L )..................... 10
Tabel 3 : Pengamatan
Bawang Daun(Allium fistulosum L) Bedengan I..................... 11
Tabel 4 : Pengamatan
Bawang Daun (Allium fistulosum L)Bedengan II .................. 11
Tabel 5 : Pengamatan
Bawang Daun (Allium fistulosum L)Bedengan III.................. 12
BAB.I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam bercocok
tanam, terdapat beberapa pola tanam agar efisien dan memudahkan kita dalam
penggunaan lahan, dan untuk menata ulang kalender penanaman. Pola tanam sendiri
ada tiga macam, yaitu : monokultur, polikultur (tumpangsari), dan rotasi
tanaman. Ketiga pola tanam tersebut memiliki nilai plus dan minus tersendiri.
Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola
tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia
(agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi).
Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1
tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang
sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun
perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan
dalam waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan
tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis
tanaman yang relatif seumur, misalnya :Mentimun (Cucumis
sativus L) dan Bawang Daun (Allium fistulosum).
Mentimun
(Allium
fistulosum)merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau
memanjat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin atau spiral. Bagian
yang dimakan dari sayuran ini adalah buahnya. Biasanya buah mentimun dimakan
mentah sebagai lalap dalam hidangan makanan dan juga di sajikan dalam bentuk
buah segar (Sugito, 1992).
Bawang daun (Allium
fistulosum) atau biasa juga disebut daun bawang merupakan jenis
sayuran dari kelompok bawang yang banyak digunakan dalam masakan. Daun bawang
sebenarnya istilah umum yang dapat terdiri dari spesies yang berbeda. Jenis
yang paling umum dijumpai adalah bawang daun (Allium fistulosum).
Jenis lainnya adalah A. ascalonicum, yang masih sejenis dengan bawang
merah. Kadang-kadang bawang prei juga disebut sebagai daun bawang.
Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dan
saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama
pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan (penyerapan hara
dan air) pada suatu petak lahan antar tanaman. Pada pola tanam tumpangsari
sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran
yang relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal.
1.2.Tujuan
Adapun tujuan Praktek Budidaya Tanaman Sayuran
adalah sebagai berikut :
ü Mahasiswa mengetahui cara budidaya Mentimun (Cucumis sativus L) dan budidaya
Bawanng Daun (Allium fistulosum L ) secara polikultur (Tumpang sari ).
ü Mahasiswa mengetahui jumlah buah Mentimun dalam
1 lobang tanam.
ü Mahasiswa mengetahui berat buah /lobang tanaman
dan per bedengan (Plot).
ü Mahasiswa mengetahui jumlah daun dan tinggi
Bawang daun (Allium fistulosum).
BAB.II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Klasifikasi dan
Morfologi Mentimun (Cucumis sativus L )
Adapun
Klasifikasi tanaman Mentimun (Cucumis
Sativus L.) menurut (Annonymous. 2011)adalah Sebagai berikut :
Kingdom :
Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Family : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Species : Cucumis sativus L
Tanaman
mentimun berakar tunggang, akar tunggangnya akan tumbbuh lurus kedalam tanah
sampai kedalaman 20 cm. Perakaran tanaman mentimun dapat tumbuh dan berkembang
pada tanah yang berstruktur remah (Cahyono, 2003).
Mentimun
merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan
perantaraan pemegang yang berbentuk pilin spiral. Batangnya basah serta
berbuku-buku. Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai 50-250 cm, bercabang
dan bersulur yang tumbuh pada sisi tangkai daun (Rukmana, 1994).
Daun
tanaman mentimun berbentuk bulat dengan ujung daun runcing berganda dan
bergerigi, berbulu sangat halus, memiliki tulang daun menyirip dan
bercabnng-cabang, kedudukan daun tegap. Mentimun berdaun tunggal, bentuk,
ukuran dan kedalaman lekuk daun mentimun sangat bervariasi (Cahyono, 2003).
Bunga mentimun merupakan bunga sempurna, berbentuk terompet dan berukuran 2-3
cm, terdiri dari tangkai bunga dan benangsari. Kelopak bunga berjumlah 5 buah,
berwarna hijau dan berbentuk ramping terletak dibagian bawah tangkai bunga.
Mahkota bunga terdiri dari 5-6 buah, berwarna kuning terang dan berbentuk bulat
(Cahyono, 2003).
Buah
mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, dan hijau
keputihan sampai putih tergantung kultivar, sementara buah mentimun tua
berwarna coklat, coklat tua bersisik, kuning tua. Diameter buah mentimun antara
12-25 cm (Sumpena 2001).
Biji timun berwarna putih, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji
mentimun diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada ruang-ruang tempat biji
tersusun dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan untuk
perbanyakan dan pembiakan (Cahyono, 2003).
2.3.Syarat Tumbuh Mentimun
Ø Iklim
Tanaman
mentimun mempunyai daya adaptasi cukup luas terhadap lingkungan tumbuhnya. Di
Indonesia mentimun dapat di tanam di dataran rendah dan dataran tinggi yaitu
sampai ketinggian ± 100 m di atas permukaan laut (Sumpena 2001).
Tanaman
mentimun tumbuh dan berproduksi tinggi pada suhu udara berkisar antara 20-320
C, dengan suhu optimal 270 C. Di daerah tropik seperti di
Indinesia keadaan suhu udara ditentukan oleh ketinggian suatu tempat dari
permukaan laut. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman
mentimun, karena penyerapan uunsur hara akan berlangsung optimal jika
pencahayaan berlangsung antara 8-12 jam/hari (Cahyono, 2003).
Kelembaban
relatif udara (rh) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun untuk pertumbuhannya
antara 50-85%, sedangkan curah hujan optimal yang diinginkan 200-400 mm/bulan.
Curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan tanaman mentimun,
terlebih pada saat mulai berbunga karena curah hujan yang tinggi akan banyak
menggugurkan bunga (Sumpena 2001).
Ø
Tanah
Pada umumnya hamper semua jenis tanah yang digunakan untuk lahan pertanian
cocok untuk ditanami mentimun. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan
kualitas yang baik, tanaman mentimun membutuhkan tanah yang subur dan gembur,
kaya akan bahan organik, tidak tegenang, pH-nya 5-6. Namun masih toleran
terhadap pH 5,5 batasan minimal dan pH 7,5 batasan maksimal. Pada pH tanah
kurang dari 5,5 akan terjadi gangguan penyerapan hara oleh akar tanaman
sehingga pertumbuhan tanaman terganggu, sedangkan pada tanah yang terlalu basa
tanaman akan terserang penyakit klorosis (Rukmana, 1994).
2.3.Budidaya Mentimun (Cucumis sativus L ).
-
Persiapan
Lahan
Tanah diolah dengan dibajak atau dicangkul untuk membuat guludan dengan tinggi antara 40-50 cm, lebar 60 cm, jarak antar guludan 40 cm. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air diantara guludan. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk mendapat hasil yang lebih baik. Pupuk dasar diberikan pada saat penanaman biji mentimun, yaitu SP-36, NPK dan ZA. Dengan membuat lubang memakai tugal, lubangnya di dekat biji mentimun yang ditanam.
Tanah diolah dengan dibajak atau dicangkul untuk membuat guludan dengan tinggi antara 40-50 cm, lebar 60 cm, jarak antar guludan 40 cm. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air diantara guludan. Pemakaian mulsa plastik disarankan untuk mendapat hasil yang lebih baik. Pupuk dasar diberikan pada saat penanaman biji mentimun, yaitu SP-36, NPK dan ZA. Dengan membuat lubang memakai tugal, lubangnya di dekat biji mentimun yang ditanam.
-
Penanaman
Pembuatan
lubang tanam dua baris atau double rows 60 x 30 cm, masukkan biji mentimun
dalam lubang dengan jumlah biji 3 biji perlubang sedangkan lubang pupuk dapat
ditugal 5 cm disamping lubang tanam.Benih ditanam sedalam 1 cm, 3 benih
perlubang tanam.Benih ditutup dengan abu jerami pada musim kemarau dan pada
musim hujan dengan abu ditambah pupuk
kandang.Penyulaman dilakukan secepatnya agar pertumbuhan tanaman
seragam.Pemeliharaan tanaman
-
Pemupukan
Pemupukan
dilakukan 3 kali dengan dosis 10 gr per tanaman atau 1 sendok teh untuk
aplikasi pertama pada umur 12 hst. Sedangkan aplikasi kedua dan ketiga dengan
dosis 20 gr pertanaman atau 1 sendok makan pada umur 25 dan 45 hst. Pupuk diletakkan
pada jarak 10 – 20 cm dari tanaman.
-
Pengairan
Pengairan
diberikan setiap selesai pemupukan. Sedangkan pengairan rutin diberikan dengan
melihat kondisi tanah di bawah mulsa.Pada musim hujan, yang harus diperhatikan
adalah drainase yang harus terbuka untuk membuang air dari dalam areal tanaman.
-
Pemasangan
lanjaran atau pengajiran
Pemasangan
lanjaran bisa dilakukan atau dipasang tanaman belum transplanting atau dipasang
setelah 2 minggu tanam. Pengajiran bertujuan untuk tanaman agar tumbuh tegak ke
atas dan memperoleh sinar matahari secara optimal.Selain itu ajir juga
berfungsi untuk merambatkan tanaman, memudahkan pemeliharaan dan tempat
menopang buah.Pengajiran dilakukan seawal mungkin (± 5 hari setelah tanam) agar
tidak mengganggu dan merusak perakaran tanama.Tinggi ajir ± 2 meter.cara
pengajiran yaitu: mengikat batang tanaman (di bawah daun pertama), melilitkan tali kasur pada batang tanaman.
-
Pembumbunan/Penggemburan
Dengan
pembumbunan, partikel tanah yang besar dihancurkan menjadi bagian-bagian yang
lebih kecil.Kegiatan pembumbunan dalam budi daya tanaman bisa dilakukan
bersama-sama dengan penyiangan.Saat dilakukan penyiangan, tanah-tanah
disepanjang barisan tanaman ditimbunkan dipangkal rumpun tanaman. Cara ini sekaligus
juga menciptakan parit-parit di atas bedengan yang akan semakin melancarkan
drainase. Tanah yang tergenangi air dan terlalu lembab bisa memicu serangan
penyakit sehingga tanaman mudah membusuk.Umunya kegiatan pembumbunan sampai
panen tiba dilakukan sebanyak tiga kali. Namun, ditanah yang ringan kegiatan
ini harus dilakukan agak sering, terutama setelah turun hujan yang bisa
mengikis tanah dipangkal tanaman
-
Pewiwilan
,Pengikatan dan
Penyiangan
Wiwil
adalah pekerjaan membuang tunas-tunas yang tumbuh di ruas ke 3 atau 4. Dampak
positif dari wiwil ini adalah mempercepat pertumbuahan tanaman ke atas
disamping untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru, Sedangkan fungsi ikat
adalah agar tanaman dapat menjalar ke atas, sehingga tanaman dapat tumbuh tegak.
Dengan ikat akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan dan panen.Penyiangan
dilakukan untuk menghilangkan gulma.
-
Panen
dan Pasca Panen
Timun
dapat dipanen setelah tanaman berumur 38 – 40 hari sejak tanam. Buah yang
dipanen berukuran panjang sekitar 18 – 20 cm dengan berat antara 80- 120 g.
Buah yang berbentuk lurus berdiameter 1,5 – 2,5 cm dengan berat 20 g adalah
buah kualitas super. Saat panen yang baik adalah pagi hari antara pukul
06.00-10.00 dan sore hari antara pukul 15.00-17.00.(Rukmana.1995)
2.4.Klasifikasi dan
Morfologi Bawang Daun (Allium
fistulosum L.)
Kingdom :Plantae
Sub divisio : Spermatophyta
Divisio :
Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Lilidae
Ordo : Asparagales
Famili : Alliaceae
Genus : Allium
Species : Allium fistulosum L
Habitat tananaman
bawang daun merupakan tanaman
semusim,dengan tinggi 60-70 cm,Batang semu.beralur.tidak bercabang,hijau
muda,daun tunggal berupa roset akar,lanset tepi rata,ujung runcing,panjang ± 30
cm,lebar ±5 cm,pertulangan sejajar,daging daun tipis , rata,hijau.
Bunga bawang daun majemuk,berkelamin dua,tangkai
silindris,panjang ±2 cm ,hijau,kelopak berbentuk corong,ujung
bertoreh,permukaan rata,putih ke hijauan ,benang sari silidris,panjang ± 5
mm,kepala sari melengkung,putik silidris,panjang ± 2 cm,kepala putik
kuning,bulat panjang,hijau,mahkota bulat terbagi enam,permukaan rata,putih.Buah
kotak,lonjong,Diameter ± 5 mm,hijau.Biji berbentuk pipih,kecil,putih,dan
berserabut.
2.5. Syarat Tumbuh Bawang Daun (Allium fistulosum L)
Bawang daun
bisa tumbuh di dataran rendah maupun tinggi. Dataran rendah yang terlalu dekat
pantai bukanlah lokasi yang tepat karena pertumbuhan bawang daun menginginkan
ketinggian sekitar 250-1.500 m dpl. Di daerah dataran rendah produksi anakan
bawang daun juga tak seberapa banyak. Curah hujan yang tepat sekitar
1.500-2.000 mm/tahun. Daerah tersebut sebaiknya juga memiliki suhu udara harian
18-25°C. Tanah dengan pH netral (6,5-7,5) cocok untuk budi daya bawang daun.
Bila tanah bersifat asam lakukan pengapuran pada saat pengolahan tanah. Jenis
tanah yang cocok ialah andosol (bekas lahan gunung berapi) dan tanah lempung
yang mengandung pasir.
2.6. Budidaya Bawang Daun (Allium fistulosum L)
-
Pembibitan
Ada
dua cara melakukan pembibitan bawang daun. Pertama, menggunakan pembibitan benih
dan kedua menggunakan pembibitan anakan. Tahap pertama budidaya bawang daun
adalah pembibitan. Berikut ini merupakan tahap pembibitan bawang daun.
-
Pembibitan Benih
Benih disemai di sebuah
bedengan selebar 100-120 cm dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi
lahan.Tanah digemburkan dan diolah dengan ukuran kedalaman sekitar 30cm.
Kemudian, pupuk kandang sebanyak 2 kilogram dicampurkan ke dalamnya.Bedengan
diberi semacam atap berbahan plastik transparan dengan ketinggian 100-150cm di
sebelah timur, sementara tinggi di sisi barat cukup 60-80cm.Benih pun
ditaburkan pada sebuah garis atau larik-larik melintang dengan kedalaman
sekitar 1cm dan jarak tiap-tiap larikan tidak lebih dari 10cm.Sambil menunggu
kecambah muncul, tutuplah benih tersebut dengan karung goni yang basah atau
bisa juga menggunakan daun pisang.Untuk merawatnya, disarankan agar penyiraman
dilakukan setiap hari.Pada usia 1 bulan, saatnya bibit diberikan pupuk daun
dengandosis anjuran 1/3 hingga ½ dengan cara disemprot.jika sudah berusia 2 bulan
dan ketinggian bibit sudah mencapai 10cm hingga 15 cm, bibit bawang daun sudah
siap dipindahkan.
-
Pembibitan Anakan
Berikut
ini adalah bagaimana daun bawang dibudidayakan menggunakan pembibitan
anakan.Memilih rumpun yang hendak dibuat menjadi bibit haruslah berumur 2,5
bulan dan dalam kondisi sehat tidak terseranghama.Pembongkarannya, rumpun
piliahan tadi diangkat bersama dengan akar-akarnya.Selanjutnya, tanah yang
menempel dan akar atau daun tua ikut dibuang.Pisahkanlah rumpun tersebut hingga
kita mempunyai rumpun baru yang terdiri dari 1-3 anakan daun bawang.Cara
penanamannya adalah membuang sebagian daun dan bibit pun disimpan pada lokasi
lembap serta teduh dengan durasi sekitar 5 hingga 7 hari.Bibit pun siap
ditanam.
-
Persiapan Lahan
Lahan
yang sesuai untuk penanaman bawang daun adalah tanah hitam yang gembur dan
banyak humus. Selanjutnya tanah diolah dan sebaiknya pengolahan tanah dilakukan
15-30 hari sebelum tanam, tanah diolah dengan dicampur Pupuk Organik.
Buatlah persemaian. Caranya, olah tanah, lalu tanam biji atau anak tunas
sebagai bibit. Untuk 1 ha lahan, dibutuhkan bibit (tunas) sebanyak 200.000
anakan atau 1,5-2 kg biji. Siapkan lahan untuk penanaman. Caranya, cangkul
tanah sedalam 30-40 cm, kemudian berikan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha.
Buat bedengan selebar 0,6-1 m. Buat parit dengan lebar 20-30 cm di antara
bedengan. Pengapuran dilakukan jika tanah ber-pH < 6.5 dengan 1-2 ton/ha
kapur dolomit dicampur merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm. Buat lubang
tanam dengan jarak 20 x 20 cm sedalam 10 cm.
-
Penanaman
Pindahkan bibit ke
lahan penanaman setelah berumur 2 bulan (tingginya 10-15 cm).Waktu tanam
terbaik awal musim hujan (Oktober) atau awal kemarau (Maret).Sebelum ditanam,
bibit dicabut dengan hati-hati, lalu potong sebagian akar dan daun.Rendam bibit
dalam fungisida dengan konsentrasi rendah (30%-50% dari dosis yang dianjurkan)
selama 10-15 menit.Tanam bibit dalam lubang yang telah disediakan, lalu padatkan
tanah disekitar pangkal bibit atau pada bagian akar.
-
Pemeliharaan
Setelah
bawang daun berumur 15 hari setelah tanam lakukan penyulaman, bila ada bibit
bawang daun yang mati atau yang pertumbuhannya kurang baik.Lakukan penyiangan
gulma setiap 3-4 minggu, atau setiap kali tumbuh gulma di sekitar tanaman
bawang daun.Pembubunan bagian dasar tunas selama 4 minggu sebelum panen.Potong
batang bunga dan daun tua untuk merangsang tunas.siram 2 kali sehari,
usahakan untuk tidak terlalu becek/basah.Lakukan penyemprotan pestisida jika
diperlukan bila muncul tanda-tanda hama dan penyakit, usahakan dengan pestisida
nabati/organik.
-
Pemupukan
Berikan
pupuk pertama pada saat bawang daun berumur 25-30 hari setelah tanam.
Selanjutnya lakukan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dengan memperhatikan
laju pertumbuhan tanaman. Untuk hasil yang maksimal, menjaga kermahan
lingkungan, dan hasil panen bawang daun yang sehat untuk dikonsumsi, gunakan Pupuk Organik.
-
Panen
Umur Panen 2,5 bulan
setelah tanam.Jumlah anakan maksimal (7-10 anakan), beberapa daun
menguning.Seluruh rumpun dibongkar dengan cangkul/kored di sore hari/pagi
hari.Bersihkan akar dari tanah yang berlebihan.
-
Pasca Panen
Bawang daun yang telah
dipanen disimpan di tempat teduh, lalu cuci sampai bersih dengan air
mengalir/disemprot, lalu tiriskan.Ikat dengan tali rafia pada bagian batang dan
daun.Berat setiap ikatan sekitar 25 kg.Bawang daun disortir sesuai ukuran
diameter batang dan panjang daun.Simpan pada temperatur 0,8-1,4 °C sehari
semalam untuk menekan penguapan dan kehilangan bobot, dan agar bawang daun
tetap segar saat akan dipasarkan.Bawang daun siap untuk dipasarkan.
2.7. Polikultur (Tumpangsari)
Polikultur (disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tanaman secara
bersama-sama atau dengan interval waktu yang singkat, pada sebidang lahan yang
sama. Tumpangsari merupakan sistem penanaman tanaman secara barisan di antara
tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Tumpangsari ditujukan untuk
memanfaatkan lingkungan (hara, air dan sinar matahari) sebaik-baiknya agar
diperoleh produksi maksimum.Sistem tumpangsari dapat diatur berdasarkan:
Ø Sifat-sifat perakaran
Ø Waktu penanaman
Tujuan
dari pada tanaman tumpangsari adalah:
Memanfaatkan
tempat-tempat yang kosong, Menghemat
pengolahan tanah,Memanfaatkan kelebihan pupuk yang diberikan kepada tanaman utamanya,Menambah
penghasilan tiap kesatuan luas tanah, Memberikan
penghasilan sebelum tanaman utama menghasilkan.
Pengukuran sifat-sifat perakaran sangat perlu untuk menghindarkan persaingan
unsur hara, air yang berasal dari dalam tanah. Sistem perakaran yang dalam
ditumpangsarikan dengan tanaman yang berakal dangkal. Tanaman monokotil yang
pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang dangkal, karena berasal dari akar
seminal dan akar buku. Sedangkan tanaman dikotil pada umumnya mempunyai sistem
perakaran dalam, karena memiliki akar tunggang. Dalam pengaturan tumpang sari
tanaman monokotil dengan tanaman dikotil dapat dilakukan kalau dipandang dari
sifat perakarannya, misalnya tumpang sari jagung dengan jeruk manis. Jeruk
manis dapat tumbuh dengan baik, sedangkan tanaman jagung tumbuh subur tanpa
mengganggu kehidupan jeruk manis.
Pengaturan tumpang sari harus diingat bahwa tanaman selalu mengadakan kompetisi
dengan tanaman semusim yang dapat saling menguntungkan, misalnya antara
kacang-kacangan dengan jagung. Jagung menghendaki nitrogen tinggi, sementara
kacang-kacangan, karena kacangan dapat memfiksasi nitrogen dari udara bebas.
BAB.III
METODE
PELAKSANAAN
3.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktek Budidaya
Tanaman Sayur-sayuran dilaksanakan
pada jam ke-I (pukul 08.300 s/d 10.00) pada Hari/Tanggal: Kamis,21 September 2013- Rabu,29 Januari 2014 ,yang
bertempat di Tor Simarsayang lahan Fakultas Pertanian Universitas Graha
Nusantara.
3.2.Alat Dan Bahan
Ø Alat
Adapun alat yang digunakan dalam Praktek Kesuburan Tanah dan Pemupukan
adalah sebagai berikut :
-
Cangkul
-
Garu
-
Gembor
-
Tali Rapia
-
Ember
-
Kayu Ajir
-
Papan Pamplet,Pisau Cutter
Ø Bahan
Adapun Bahan yang digunakan dalam Praktek Kesuburan Tanah dan Pemukan
adalah sebagai berikut :
-
Benih Mentimun,Benih
Bawang Daun
-
Pupuk Kompos
-
Pupuk NPK Mutiara
-
Polybag ukuran 5 cm × 5 cm
3.3.Prosedur Kerja.
- Pembersihan lahan dengan ukuran 1,2 m × 4,5 m.
- Pembuatan Plot yang akan digunakan untuk menanam Mentimun dan Bawang dau secara polikultur (Tumpangsari) dengan ukuran 1 m x 1,5 m,dengan jumlah 3 plot (bedengan)
- Pembuatan Lobang tanam/Jarak tanam Mentimun yang digunakan 50 cm × 50 cm . dengan jumlah lobang tanam/Plot (Bedengan) 10 lobang tanam,jadi untuk 3 bedengan 30 lobang tanam mentimun.
- Pemberian Pupuk Kompos sebagai pupuk dasar (Pupuk Kompos ).
- Penanaman benih Mentimun,Pembuatan Ajir panjang ± 30 cm tanda Lobang tanam , untuk mengetahui lobang tanam Mentimun.
- Pembuatan lanjaran Mentimun dengan panjang ± 2 m.
- Penanaman bibit bawang daun dengan jarak 20 cm × 50 cm.
- Pemeliharaan yaang terdiri dari :
-
Penyiraman :dilakukan
rutin pada sore hari ,apabila tidak turun hujan.
-
Penyiangan
-
Pemupukan dilakukan 2
kali,dengan pupuk NPK Mutiara, dosis ± 5 gram/lobang tanam.
-
Pengendalian H/P pada
tanaman Mentimun dilakukan secara mekanik.
- Panen
3.4.Parameter Pengamatan.
Parameter pengamatan
Budidaya Tanaman Sayuran ialah:pengamatan jumlah buah Mentimun (Cucumis sativus L) per lobang tanam Pengamatan
jumlah buah dilakukan dengan menghitung banyaknya buah setiap kali panen dan
dijumlahkan sampai panen ketiga dari masing-masing tanaman.
Berat
buah perlobang tanaman Penimbangan berat buah dilakukan dengan cara menimbang
buah yang dipanen dengan menggunakan
timbangan.
Parameter pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L )ialah Tinngi dan Jumlah daun,dengan metode zigzag
dalam pengambilan sampel tanaman.
3.4.Denah Lokasi Lahan
Adapun denah
Lokasi Praktek Budidaya Tanaman Sayur-Sayuran sebagai berikut :

BAB.IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil
Adapun hasil pengamatan praktek Budidaya Tanaman
Sayur-sayuran adalah sebagai berikut :
4.1.1. Mentimun (Cucumis sativus L )
v Jumlah Buah Mentimun (Cucumis sativus L )
|
No
|
Tanaman Sampel
|
Pengamatan (Jumlah Buah/Lobang Tanam)
|
|||
|
Bedengan I
|
I
|
II
|
III
|
Total
|
|
|
1
|
1
|
2
|
-
|
-
|
2
|
|
2
|
2
|
2
|
-
|
-
|
2
|
|
3
|
4
|
1
|
2
|
1
|
4
|
|
4
|
5
|
1
|
1
|
3
|
5
|
|
5
|
8
|
3
|
1
|
4
|
8
|
|
|
Sub Total
|
9
|
4
|
7
|
21
|
|
6
|
Bedengan II
|
|
|
|
|
|
7
|
11
|
2
|
1
|
1
|
4
|
|
8
|
12
|
2
|
1
|
2
|
5
|
|
9
|
16
|
1
|
1
|
-
|
2
|
|
10
|
17
|
-
|
1
|
1
|
2
|
|
11
|
19
|
2
|
-
|
2
|
4
|
|
|
Sub Total
|
7
|
4
|
6
|
17
|
|
12
|
Bedengan III
|
|
|
|
|
|
13
|
22
|
2
|
-
|
2
|
4
|
|
14
|
24
|
-
|
2
|
2
|
4
|
|
15
|
25
|
2
|
-
|
2
|
4
|
|
16
|
27
|
2
|
1
|
1
|
4
|
|
17
|
29
|
2
|
1
|
-
|
3
|
|
|
Sub Total
|
8
|
4
|
7
|
15
|
|
18
|
Total
|
24
|
12
|
21
|
55
|
Tabel
1 :Jumlah Buah Tanaman
Mentimun (Cucumis sativus L )
v Berat Buah Mentimun (Cucumis sativus L )
|
No
|
Tanaman Sampel
|
Berat (gram)
|
|
1
|
Bedengan I
|
|
|
2
|
1
|
220 gram
|
|
3
|
2
|
240 gram
|
|
4
|
8
|
190 gram
|
|
5
|
Sub Total
|
650 gram
|
|
6
|
Bedengan II
|
|
|
7
|
11
|
70 gram
|
|
8
|
16
|
120 gram
|
|
9
|
17
|
50 gram
|
|
10
|
19
|
100 gram
|
|
11
|
Sub Total
|
340 gram
|
|
12
|
Bedengan III
|
|
|
13
|
22
|
60 gram
|
|
14
|
25
|
50 gram
|
|
15
|
29
|
90 gram
|
|
16
|
Sub Total
|
200 gram
|
|
17
|
Total
|
1.190 gram
|
Tabel
2:Berat Bobot Basah Tanaman
Mentimun (Cucumis sativus L )
4.1.2.Bawang Daun (Allium fistulosum L)
Hasil pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L)dengan parameter pengamatan Jumlah daun dan Tinggi
tanaman,adalah sebagai berikut :
v Bedengan I
|
No
|
Tan.Sampel
|
Pengamatan
|
|||||
|
I
|
II
|
II
|
|||||
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
||
|
1
|
1
|
29 cm
|
3
|
29,7 cm
|
4
|
33 cm
|
4
|
|
2
|
2
|
29,7 cm
|
2
|
30,4 cm
|
2
|
32 cm
|
3
|
|
3
|
3
|
24 cm
|
3
|
25,2 cm
|
3
|
26 cm
|
4
|
|
4
|
4
|
27 cm
|
3
|
28,7 cm
|
3
|
30 cm
|
3
|
|
5
|
5
|
25 cm
|
3
|
26,1 cm
|
2
|
27 cm
|
4
|
Tabel
3: Pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L) bedengan I
v Bedengan II
|
No
|
Tan.Sampel
|
Pengamatan
|
|||||
|
I
|
II
|
II
|
|||||
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
||
|
1
|
1
|
26 cm
|
3
|
26,8 cm
|
3
|
28 cm
|
4
|
|
2
|
2
|
27 cm
|
3
|
28,3 cm
|
4
|
29 cm
|
4
|
|
3
|
3
|
25,2 cm
|
3
|
26 cm
|
4
|
27 cm
|
4
|
|
4
|
4
|
21,4 cm
|
3
|
22 cm
|
3
|
23 cm
|
4
|
|
5
|
5
|
22 cm
|
2
|
22,7 cm
|
3
|
24 cm
|
3
|
Tabel
4 ;Pengamata Bawang daun (Allium fistulosum L)Bedengan II
v Bedengan III
|
No
|
Tan.Sampel
|
Pengamatan
|
|||||
|
I
|
II
|
II
|
|||||
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
Tinngi (cm)
|
Jumlah Daun
|
||
|
1
|
1
|
24 cm
|
3
|
24,8 cm
|
3
|
26 cm
|
4
|
|
2
|
2
|
21cm
|
2
|
21,7 cm
|
3
|
23 cm
|
3
|
|
3
|
3
|
22,2 cm
|
3
|
23 cm
|
4
|
24 cm
|
4
|
|
4
|
4
|
28 cm
|
3
|
28,7 cm
|
3
|
30 cm
|
4
|
|
5
|
5
|
18,3 cm
|
3
|
19 cm
|
4
|
20 cm
|
4
|
Tabel
5;Pengamatan Bawang Daun (Allium fistulosum L) bedengan III
4.2.Pembahasan
Polikultur
(disebut Juga tumpangsari) adalah penanaman dua tanaman secara bersama-sama
atau dengan interval waktu yang singkat, pada sebidang lahan yang sama. Adapun Keuntungan
bertanam secara polikultur (Tumpang sari
) adalah sebagai berikut; Efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan
tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutannya lebih mudah
dimekanisir,Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara
dan didalam barisan,Menghsilkan produksi lebih banyak untuk di jual ke pasar ,kesuburan dan
tekstur tanah ,Resiko kegagalan panen berkurang,Kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan
produksi tertinggi karena penggunaan tanah dan sinar matahari lebih efisien.Sedangkan
kelemmahan plikultur (Tumpang sari ) adalah Persaingan
dalam hal unsur hara, Pemilihan komoditas, Permintaan Pasar, Memerlukan tambahan
biaya dan perlakuan.
4.2.1.Mentimun (Cucumis sativus L)
Data di ambil dari tanaman sampel sebanyak 5
perberdengan,pengambilan sampel dengan metode zigzag,jadi jumlah sampel yang
diamati dari 3 bedengan sebanyak 15 sampel tanaman.Jumlah buah,dari data yang telah dicantumkan di atas dapat
diketahui bahwa jumlah buah Mentimun (Cucumis
sativus L) yaitu pada bedengan I pengamatan 1-3 terdapat 21 buah, bedengan
ke-2 terdapat 17 buah dan bedengan ke-3 terdapat 15 buah,penurunan jumlah buah
disebabkan faktor biotik yang dapat mempengaruhi produktifitas mentimun
meliputi populasi organism hidup yang ada disekitar lokasi budidaya.dari ketiga
bedengan tersebut yang paling baik produksi buah terdapat pada bedengan
I.Adapun jumlah buah keseluruhan bedengan 1-3 yaitu 55 buah.
Rendahnya
produksi dari tanaman mentimun dikarenakan cahaya matahari yang tinggi sehingga
bunga yang dihasilkan lebih banyak bunga jantan dibanding bunga betina. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Cahyono (2003) yang mengatakan bahwa intensitas cahaya
matahari yang tinggi pada tanaman mentimun lebih dominan pembentukan bunga
jantan. Hasil produksi akan lebih rendah karena jumlah tanaman dilahan lebih
sedikit jadi hasilnya juga rendah walaupun semua tanaman tumbuh dengan baik
menurut Rukmana.
Berat Buah;Hasil
panen (berat bobot basah ) Mentimun (Cucumis
sativus L),bedengan I terdapat 650 gram,bedengan II: 340 gram dan bedengan
III : 200 gram terjadinya ,total hasil keseluruhan sebanyak 1.190 gram. Buah mentimun
dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat dipanen, yaitu
buah masih berduri, panjang buah antara 10-30 cm atau tergantung jenis yang
diusahakan interval panen dilakukan antara 1-2 hari sekali.pemanenan
sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari yang bertujuan untuk menjaga kualitas dan kwntitas
buah.Panen dilakukan dengan cara memotong tangkainya dengan pisau atau gunting.
Tangkai buah yang bekas dipotong sebaiknya dicelupkan kedalam larutan lilin
untuk mempertahankan laju penguapan dan kelayuan sehingga kesegaran buah mentimun
dapat terjaga relatif lama (Sumpena, 2001).
Berat buah tanaman mentimun sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan hara tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rismunandar (1981)
mengatakan bahwa tanaman akan tumbuh baik dan menghasilkan produksi tinggi apabila
tersedia cukup makanan. Pemupukan merupakan salah satu cara untuk memenuhi
kebutuhan hara tanaman.
4.2.2.Bawang
Daun (Allium
fistulosum L)
Data di ambil dari tanaman sampel sebanyak 5
perberdengan,pengambilan sampel dengan metode zigzag,jadi jumlah sampel yang
diamati dari 3 bedengan sebanyak 15 sampel tanaman.Bedengan I,dari data diatas kita ketahui bahwa tanaman paliang
tinggi yaitu tanaman sampel 1, pengamatan I
tinggi 29 cm,pengamatan ke-2 tinggi 29,7 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 33 cm,sedangkan yang paling rendah
pada tanaman sampel 3, pengamatan I tinggi 24 cm,pengamatan ke-2 tinggi 25,2 cm
dan pengamatan ke-3 tinggi 26 cm.Rata-rata jumlah Daun dari tanaman sampel
1-5,pengamatan I 3 daun,pengamatan ke-2 3 daun dan pengamatan ke-3 4 daun.
Bedengan II,Tanaman yang
paling tinggi yaitu tanaman sampel 2,pengamatan I tinggi 27 cm,Pengamatan ke-2
tinggi 28,3 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 29
cm.Sedangkan tanaman sampel yang paling rendah pada tanaman sampel
4,pengamatan I tinggi 21,4 cm, pengamatan ke-2 tinggi 22 cm dan pengamatan ke-3
tinggi 24 cm.Rata-rata jumlah daun tanaman sampel pada bedengan II ,pengamatan
I Dan ke-2 3 helai daun,sedangkan pada
pengamatan ke -3 4 helai daun.
Bedengan III, Tanaman yang
paling tinggi yaitu tanaman sampel 4,pengamatan I tinggi 28 cm,Pengamatan ke-2
tinggi 28,7 cm dan pengamatan ke-3 tinggi 30
cm.Sedangkan tanaman sampel yang paling rendah pada tanaman sampel
5,pengamatan I tinggi 18,3 cm, pengamatan ke-2 tinggi 19 cm dan pengamatan ke-3
tinggi 20 cm.Rata-rata jumlah daun tanaman sampel pada bedengan II ,pengamatan
I Dan ke-2 3 helai daun,sedangkan pada
pengamatan ke -3 4 helai daun.
Dari hasil pengamatan bedengan 1-3,tanaman yang
paling baik pada bedengan I pada sampel tanaman 1 tinngi 33 cm,sedangkan yang
paling rendah tanaman sampel 5 pada
bedengan III,dengan tinggi tanaman 20 cm.sedangkan rata-rata daun ari ketiga
bedengan sama pada pengamtan 1 dan 2,hanya terdapat 3 helai daun dan pada
pengamatan ke-3 hanaya terdapat 4 helaian daun.Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman
bawang daun (Allium fistulosum L) Factor abiotik ini mencakup kondisi tanah,
iklim, air, suhu dan kelembaban udara lingkungan tumbuh tanaman.dengan
mengetahui syarat tumbuh mentimun, pada umumnya kondisi lingkungan yang yang
digunakan untuk praktikum sudah cukup sesuai untuk budidaya bawang daun
secara polikultur.Adapun Keuntungan dan kekurangan bertanam secara polikultur (Tumpang sari ) adalah sebagai berikut
BAB.V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
v Jumlah buah,dari data yang
telah dicantumkan di atas dapat diketahui bahwa jumlah buah Mentimun (Cucumis sativus L) yaitu pada bedengan
I pengamatan 1-3 terdapat 21 buah, bedengan ke-2 terdapat 17 buah dan bedengan
ke-3 terdapat 15 buah,penurunan jumlah buah disebabkan faktor biotik yang dapat mempengaruhi
produktifitas mentimun meliputi populasi organism hidup yang ada disekitar
lokasi budidaya.dari ketiga bedengan tersebut yang paling baik produksi buah terdapat pada
bedengan I.Adapun jumlah buah keseluruhan bedengan 1-3 yaitu 55 buah.
v Berat Buah;Hasil panen
(berat bobot basah ) Mentimun (Cucumis
sativus L),bedengan I terdapat 650 gram,bedengan II: 340 gram dan bedengan
III : 200 gram maka total hasil keseluruhan sebanyak 1.190 gram.
v Dari hasil pengamatan bedengan 1-3 Bawang Daun ,tanaman yang paling baik
pada bedengan I pada sampel tanaman 1 tinngi 33 cm,sedangkan yang paling rendah
tanaman sampel 5 pada bedengan
III,dengan tinggi tanaman 20 cm.sedangkan rata-rata daun ari ketiga bedengan
sama pada pengamtan 1 dan 2,hanya terdapat 3 helai daun dan pada pengamatan
ke-3 hanaya terdapat 4 helaian daun.
5.2.Saran
v Sebaiknya pemanenan pada buah mentimun (Cucumis
sativus L) dilakukan pada pagi/sore hari.
v
Diharapkan kepada semua
praktikan untuk lebih serius dalam menjalani praktikum agar tujuan dari praktikum
ini dapat terlaksana dengan baik dan praktikan dapat mengetahui dan memahami
prosedur kerja sehingga dapat memuat laporan dengan baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Rachmat, S. dan Geraad Grubben. 1995. Pedoman
Bertanam Sayuran Dataran Rendah.
Prosea
Indonesia dan Balai Penelitian Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal,
102-104.
Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif
dengan Mulsa Secara Tumpang Gilir.
Penebar
Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.
Annonymous. 2011. http://rierevolution.wordpress.com/2010/07/26/mentimun-peluang-budidaya-dan-manfaat/.
Diakses tanggal 10 Februari 2014.
Rukmana, Rahmat. 1995.
Budidaya Mentimun. Yogyakarta. Kanisius
Jumin, Hasan Basri.
1998. Dasar-dasar Agronomi. Jakarta : Rajawali.
Marzuki, H. A. Rasyid,
Soeprapto. 2004. Bertanam Kacang Hijau. Jakarta : Penebar
Swadaya.
Najiyati, Sri. 1992.
Palawija, Budidaya, dan Analisis Usaha Tani. Jakarta : Penebar Swadaya.
Sunaryo, Hendro. 1984.
Pengantar Pengetahuan Dasar Hortiklutura (Produksi Hortikultura I).
Bandung
: Sinar Baru Bandung.
LAMPIRAN
Ø Jadwal Kegiatan
Pelaksanaan Praktek Budidaya Tanaman Sayuran
|
NO
|
Hari/tgl/Thn
|
Kegiatan
|
|
1
|
Kamis,14/11/2013
|
Pembersihan lahan,pengolahan tanah
|
|
2
|
Kamis,21/11/2013
|
Pembuatan bedengan
|
|
3
|
Jum’at,22/11/2013
|
Pembibitan Bawang Daun
|
|
4
|
Kamis,28/11/2013
|
Penanaman Mentimun,penyiraman
|
|
5
|
Kamis,12/12/2013
|
Pembuatan lanjaran,Pemupukan dengan Pupuk Kompos,Penyiraman.
|
|
6
|
Kamis,19/12/2013
|
Penanaman Bawang Daun ,Pemupukan I Mentimun Penyiraman
|
|
7
|
Rabu,7/1.2014
|
Pemupukan ke-2 Mentimun ,penyiangan ,Pengikatan , pengendalian H/P dan penyiraman
|
|
9
|
Kamis.08/01/2014
|
Pengamatan Jumlah buah mentimun Pengikatan ,Pemangkasan ,pengendalian
H/P,dan Penyiraman
|
|
10
|
Rabu,15/01/2014
|
Pengamatan ke-2 Mentimun,Panen ,Penggemburan, Penyiangan,Pengamatan I
Bawang Daun.
|
|
11
|
Rabu,22/01/2014
|
Pengamatan ke-3 Mentimun,Pengamatan ke-2 Bawang daun,penggemburan,dan
Penyirman
|
|
12
|
Rabu,29/01/2014
|
Pengamatan ke-3 Bawang daun.
|
Ø Dokumentasi Fhoto

Gambar :Benih
Mentimun Gambar : Penanaman Mentimun

Gambar
:Pembibitan Bawang Daun Gambar :Pembuatan Lanjaran Timun

Gambar;Penyiraman Gambar
:Penanaman Bawang Daun

Gambar :Pemupukan Gambar
:Pengikatan

Gambar ;Buah
Mentimun Gamabar
; Pemangkasan daun
Gambar :Panen
Mentimun